Pada bilangan usia yang tak lagi muda, saya masuk dalam sebuah komunitas/grup/kelompok/organisasi menulis secara all out (beuh bahasanya, all out, Cyn!). Dulu jaman kuliah, beberapa kali pernah mendaftar dalam sebuah forum penulisan bergengsi, tapi hanya sebatas aply saja. Kesibukan (nah, belum-belum sudah sok sibuk) dan jarak untuk berkumpul dengan forum itu adalah kambing hitamnya. Padahal sejatinya adalah niat. Bukannya kalau niat pasti ada saja jalannya?
Bagi saya yang lembek motivasi diri, niat ini kadang-kadang harus dipaksa. Bila perlu diikat, kuat-kuat, hingga saya tak punya -sekedar- kelebat pikiran untuk melakukan tindakan percobaan melarikan diri. Dan, di grup menulis yang saya tercebur di dalamnya sekarang inilah, hal itu terjadi!
BAW; Tempat Tertambatnya Niat
Pada grup BAWlah saya menyerahkan diri untuk diikat niatnya kuat-kuat. Hanya bermodal kenal dengan sang Ibu Kepala; Leyla Imtichanah pasca FF saya masuk nominasi sebuah audisi yang diselenggarakan olehnya, saya nekat berkumpul dengan para pendahulu yang karyanya sudah bejibun.
Memasuki BAW pada awalnya nyaris seperti orang tersesat. Di antara banyak thread entah yang serius belajar atau yang OOT dan sahut menyahut komen yang meramaikannya, saya hanya diam tak tahu harus berbuat apa. Rasa-rasanya, walau sudah kulonuwun dan menyapa 'hai', saya ini tetap macam anak hilang yang masuk ke rumah orang. Semua sibuk. Beberapa hanya mengarahkan pada papan petunjuk. Senin ke arah Cathar, selasa ke jalan Sharing, rabu ke simpang blogging, kamis ke lorong Promo, jumat ke gang review, dan sabtu ke lapak Bussines. Selebihnya, suka-suka kau mau main ke mana. Begitu katanya.
Ok saya coba. Namun, belum sempurna proses adaptasi, saya kembali dibikin keki. Sebuah peraturan horor; member yang tak aktif tanpa ampun akan diremove. Aturan ini dalam otak saya terekam sebagai ‘ancaman’. Ancaman yang menurut saya lebay ini sungguh lebih mengerikan dari darurat virus kaki gajah. Maka, sempurnalah saya sebagai member baru yang merasa terasing dan terancam, dan sekarang ditambah predikat; alay (tentu saja saya alay, buktinya member lain menganggap proses “R” itu biasa saja. Tidak gelisah seperti saya). Niat belajar menulis saya benar-benar diuji di sini. Akankah menyerah atau bersetia?
Momentum
Pada akhirnya memang harus kembali pada niat. Bagaimanalah cita-cita saya akan tergapai jika gampang frustasi. Justru kelebay-an grup BAW ini otomatis meremind niat saya kenapa masuk grup ini. Belajar menulis. Itu saja. Selebihnya cuma pemanis. Peraturan horor itu cuma pemanis untuk membuat grup berjalan efektif efisien. Ukhuwah member lain yang sulit ditembus pun cuma pemanis yang memperkaya suasana.
Jadi, kalau saya fokus saja pada niat, selain akan mencapai goal impian, juga akan otomatis tertular manis. *mulai narsis
Dan Allah berkenan me'manis'kan saya. Lewat proyek kumcer BAW, cerpen saya mendapat apresiasi dari para senior. Maka, itu adalah momentum ketika si anak hilang ini merasa mulai masuk ke rumah sebenarnya. Mulai berani menyapa dan senang disapa. Nggak jarang ikut-ikutan OOT.
Kesan 'terancam' pada awal kehadiran mulai berganti. Mulai betah. Apa adanya. Santai. Dan asyikya, grup menulis ini nggak tutup mata sama situasi kondisi yang sedang terjadi. Yang paling mengesankan adalah saat mengikuti lelang untuk rakyat Palestina. Mantengin barang yang ditaksir, mau fast grab duit cekak. Jadi tunggu detik-detik akhir saja biar jadi pemenang. Eh ndilalah, waktu penutupan lelang malah kalah sama si sinyal lemot. Itu bener-bener bikin jantungan.
Grupnya Para Jawara
Tidaklah berlebihan jika saya katakan bahwa BAW adalah grupnya para juara. Mulai dari lomba novel di banyak penerbit bergengsi seperti Bentang, Qanita, Indiva. Lomba resensi, lomba cerpen, dan yang lagi ngetren sekarang ini adalah lomba blog.
Walau tidak ada klasifikasi khusus, tetapi secara garis besar bisa dipetakan bahwa BAWers sebagiannya adalah penulis fiksi yang selalu menang di lomba cerpen dan novel, dan sebagiannya adalah penulis non fiksi yang selalu juara pada tiap kompetisi blog dan writting kompeticion lainnya. Setiap harinya, selalu ada saja kabar gembira dari BAWers yang menang ini dan itu.
Mula-mula, kabar gembira ini melecut semangat saya. Namun kelamaan, harus saya akui mulai tidak tulus dengan keberhasilan teman yang dihadiahkan banyak ucapan. Dan parahnya, ucapan selamat saya (kadang-kadang) cenderung lip services belaka. Tersiksa sekali batin saya. Sisi hati yang bersih selalu berhasil ditelikung perasaan iri.
Beruntung, dalam kondisi seperti ini, seorang mentor, penulis kawakan Afifah Afra memberi nasihat kepada kami semua. Terkhusus saya yang alay dalam merasakan sakit sebab hal ini, nasehat beliau sangat mujarab. Berikut cuplikannya;
“Menyampaikan kabar gembira, adalah bagian dari keindahan Islam. Kita juga tak perlu takut untuk mengabarkan, dengan alasan jadi tak ikhlas. Jadi, tak ada masalah ketika kita meng-upload peristiwa baik yang kita alami. Apalagi, jika peristiwa itu adalah sebuah kemenangan yang kita peroleh dengan penuh perjuangan. Apakah itu riya'? Saya kira bukan. Riya' dan memberi kabar baik itu perkara yang berbeda. Tapi, bedanya memang tipis.
Percayalah, bahwa memendam kabar baik terkadang juga bisa menimbulkan penyakit hati pula. Misal, penyakit prasangka buruk bahwa saudara kita telah berbuat riya', lalu kita bergumam-gumam dalam hati, "Gitu aja dipamerin, nih, prestasiku sudah berjibun, aku diam saja."
Saya teringat nasihat Akhuna Salim A. Fillah, "Saat engkau merasa bicaramu itu penyakit, maka diamlah. Saat engkau merasa diammu adalah penyakit, maka bicaralah."
Membacanya sungguh membuat hati teduh, bukan?
Dan berangkat dari sini, saya berharap ke depan bisa terus menjaga kebersihan hati untuk tidak saling iri terhadap sesama penulis. Dan semoga, BAW tetap eksis, seeksis karir saya sebagai novelis (mudah-mudahan) best seller di tahun-tahun mendatang. *asli ngimpi. Tapi, baiknya kita amin saja, ya…:D
BC, 20 April '13
TTD, Calon Novelis (Moga-Moga) Best Seller
Dwi AR ^_^
BAW; Tempat Niat Diikat Kuat-Kuat
Posted by
Unknown
|
Subscribe to:
Post Comments (Atom)








14 comments:
pertamaxxxxx.....
aamiin, semoga benar-benar jadi novelis dari novel best seller
:-):-):-)
mba wiek, aku benarbenar menantikan novelmu loh ;)
ini gimana cara ngereply satu2 kayak di MP dulu itu Ai....*gaptek ga sembuh2*, trus cara ngefollow gmn? kl dulu kan di site MP ada kolom invitenya kita tinggal klik, lah kl ini pegimane?
@ Mb Ade mksh banyak aminnya ya...:)
@ Mb Lyta....apa itu arti ketawanya. tlg deskripsikan...:p
Nah, td aku dari laptop skrg dari hape kok tampilannya beda lagi? Trs kok jd kliatan reply per komennya? Ada apa ini???
Ai, kl mau bikin kategori tulisan gmn caranya?
mba wiek, aku juga bingung. lah, kok di blogmu ini tiap komennya gak bisa di-reply yaa? kalo di blogspotku sih bisa mba #gaptekjuga ^^a
kalo add secara manual, bisa mampir ke dashboard. di sebelah kiri, di bawah reading list, ada button add. nah, mba wiek klik itu. trus tambahin link blog yg mau difollow. yang blognya pake wordpress juga bisa dimasukin kok.
atau bisa juga follow langsung ke blog ybs. nah, dalam hal ini aku gak bisa menerapkan itu di blog mba wiek karena dirimu belum pasang widget follow blog. cuma follow by email.
kalo mau atur2 tampilan atau mau ditambahin widgetnya, sila ke layout aja yaa..
mba wiek, kayaknya template-nya yaa yang bikin pilihan reply comment jadi tersembunyi?
kalo tampilan reguler dan mobile emang agak beda.
cara bikin kategori... tinggal tulis aja kategori/label yg diinginkan tiap kali kita posting (letaknya ada di sebelah kanan kalo kita lagi compose new post)
Ini dari hp bs reply, ai.
ini aku buka dari hape juga. keliatan reply-nya. tapi aku gak bisa langsung reply di bawah komennya.
nahlho.gimana ya bikin replynya.maafffinn akuuu.semoga sukses jd novelis best seller.aamiin
SEMANGKA...
Semangat, Kakak... :-)
alhamdulillah, finally, malam ini bisa ngganti poto profil :D
Post a Comment