Awal tahun 2006 ketika mengikut suami yang merantau demi sesuap nasi dan segram emas di Batam, saya surprise membaca kemasan sebuah bungkus kopi. “Kapal Tanker” itu mereknya. Kopi bubuk entah dari jenis apa dan rasanya yang entahlah karena saya tak pernah minum kopi. Yang spesial membikin surprise bukan dari jenis, kwalitas dan segala yang penggemar kopi bisa nilai. Spesialnya karena di kemasan Kapal Tanker ini jelas tertulis bahwa ini kopi diproduksi di Batam-Tanjung Pinang Kepulauan Riau.
Memangnya, di mana ada kebun kopi di Batam sini?
Pertanyaan itu menguap begitu saja. Sampai beberapa hari lalu, penulis romance panutan sekaligus darinya saya banyak belajar; Riawany Elita, mengirimkan novel terbarunya; “The Coffee Memory”. Sebuah novel yang settingnya pekat aroma kopi. Sebuah pasangan yang merintis coffee shop dan seluk beluk perihal jatuh bangunnya bisnis ini. Dan tentu saja karena ini novel romance, aroma romantis dari tokoh-tokohnya juga bisa dirasakan sangat kental walau tetap berasa ringan dan santun yang udah jadi brand imagenya Mb Lyta.
Dalam tiap pergantian bab saya seperti disuguhi kopi berganti-ganti jenis dan rasa. Hidung saya seperti benar-benar menghidu aroma kopi, tak sudah-sudah, tak habis-habis. Dalam tempo tutur yang mengalir sedang, saya lancar menyeruput cerita dengan alur maju. Hanya saja, karena saya bukan seorang kopi lovers, agak tersendat pada awal-awal babnya yang menceritakan pasangan Andro-Dania dalam perjuangannya berbisnis kafe yang diberi nama ‘Katju Manis’, hingga dalam sebuah kecelakaan sepulang dari kebun kopi, mobil mereka celaka dan menewaskan Andro.
Perjuangan Dania untuk meneruskan usaha warisan sang suami tersendat dengan hadirnya si Abang Ipar yang serakah juga mundurnya seorang barista terbaik yang ditarik kafe baru n notabene milik Pram; teman SMA yang begitu masih terngiang cinta lamanya hingga belum juga menikah. Inilah konflik utamanya. Selain konflik percintaan yang begitu dirasa berat bagi seorang widow yang di Negara kita, masih terus dilabel agak kurang baik hingga tokoh agama dirasa perlu terus membimbing mereka dalam jalan kebaikan…^_^
Well, bab separuh ke ending sangat lancar untuk saya tenggak. Tak lagi harus menyeruput. Hingga ending hadap-hadapan pilihan akankah Dania memilih Pram ataukah Barry, si barista baru yang skillnya menyamai Andro sang mantan suami dan selalu memanggilnya dengan embel-embel “Mbak”. Saya selalu senang cara Mb Lyta membuat ending. Seperti Flash Fiction yang ‘harus’ memberi kejutan pada endingnya, begitu juga dalam novel ini. Ah, monggo bacalah sendiri dan kalian akan menikmati manisnya cerita kopi ini.
Kalau dirating, saya kasi 4 bintang untuk The Coffee Memory. Sebab bintang satunya ketinggalan di setting tempat. Kenapa penulis memilih mengambil Batam bukan yang lain. Walau Batam berjamur coffee shop tapi di manakah ada kebun kopi? Ya, seperti pertanyaan saya awal paragraph tadi, di mana memangnya ada kebun kopi di Batam ini?
Seandainya Katju Manis megambil kota Lampung atau Aceh atau di manapun ada kebun kopi sebagai lokasi berdirinya, saya pasti tak ragu memberi 5 bintang. Hanya saja, pengakuan penulis yang katanya hanya butuh 1,5 bulan untuk menyelesaikan naskah ini dan itu sungguh tak sempat jika harus riset daerah lain selain Batam, maka sayapun mafhum.
Sebab, walau hingga detik ini saya belum pernah nemu kebun kopi di Batam, si penulis yang domisili Tanjung Pinang mengaku, pada suatu ketika sepulang kondangan, ia mencium aroma sangat menyengat dari sebuah rumah, dan ternyata, di dapur rumah tersebut, sedang mengepul asap dari kuali yang sedang menggongseng biji-biji kopi. Mungkin, itu biji-biji kopi impor. Entahlah. Yang jelas, novel ini recommended banget buat para coffee lovers yang juga mencintai karya romance nggak picisan.
The Coffee Memory, sukses membuat saya terperosok pada sebuah kenang. Tentang seseorang seperti Barry, yang selalu memanggil saya dengan “Mbak.” Selalu begitu. Dan belum berubah. Very nice novel. Like it, lah.
Salam dari tukang review yang sesuka-sukanya ngereview, maafkan ada salah-salah kata.
Mari lanjutkan mengopi pagi,
Ttd, calon novelis (moga-moga) best seller
Dwi AR ^_^









