Powered by Blogger.
RSS
Dwi Rahmawati

Review Novel The Coffee Memory

The Coffee Memory
Penulis: Riawani Elyta
Penyunting: Laurensia Nita
Penerbit: Bentang Pustaka (Pustaka Populer)
Jumlah Halaman: 232 halaman
Harga: Rp.39.000
ISBN: 9786027888203
 

Awal tahun 2006 ketika mengikut suami yang merantau demi sesuap nasi dan segram emas di Batam, saya surprise membaca kemasan sebuah bungkus kopi. “Kapal Tanker” itu mereknya.  Kopi bubuk entah dari jenis apa dan rasanya yang entahlah karena saya tak pernah minum kopi. Yang spesial membikin surprise bukan dari jenis, kwalitas dan segala yang penggemar kopi bisa nilai. Spesialnya karena di kemasan Kapal Tanker ini jelas tertulis bahwa ini kopi diproduksi di Batam-Tanjung Pinang Kepulauan Riau. 

Memangnya, di mana ada kebun kopi di Batam sini?

Pertanyaan itu menguap begitu saja. Sampai beberapa hari lalu, penulis romance panutan sekaligus darinya saya banyak belajar; Riawany Elita, mengirimkan novel terbarunya; “The Coffee Memory”.  Sebuah novel yang settingnya pekat aroma kopi. Sebuah pasangan yang merintis coffee shop dan seluk beluk perihal jatuh bangunnya bisnis ini. Dan tentu saja karena ini novel romance, aroma romantis dari tokoh-tokohnya juga bisa dirasakan sangat kental walau tetap berasa ringan dan santun yang udah jadi brand imagenya Mb Lyta.


Dalam tiap pergantian bab saya seperti disuguhi kopi berganti-ganti jenis dan rasa. Hidung saya seperti benar-benar menghidu aroma kopi, tak sudah-sudah, tak habis-habis. Dalam tempo tutur yang mengalir sedang, saya lancar menyeruput cerita dengan alur maju. Hanya saja, karena saya bukan seorang kopi lovers, agak tersendat pada awal-awal babnya yang menceritakan pasangan Andro-Dania dalam perjuangannya berbisnis kafe yang diberi nama ‘Katju Manis’, hingga dalam sebuah kecelakaan sepulang dari kebun kopi, mobil mereka celaka dan menewaskan Andro.


Perjuangan Dania untuk meneruskan usaha warisan sang suami tersendat dengan hadirnya si Abang Ipar yang serakah juga mundurnya seorang barista terbaik yang ditarik kafe baru n notabene milik Pram; teman SMA yang begitu masih terngiang cinta lamanya hingga belum juga menikah.  Inilah konflik utamanya. Selain konflik percintaan yang begitu dirasa berat bagi seorang widow yang di Negara kita, masih terus dilabel agak kurang baik hingga tokoh agama dirasa perlu terus membimbing mereka dalam jalan kebaikan…^_^
 

Well, bab separuh ke ending sangat lancar untuk saya tenggak. Tak lagi harus menyeruput. Hingga ending hadap-hadapan pilihan akankah Dania memilih Pram ataukah Barry, si barista baru yang skillnya menyamai  Andro sang mantan suami dan selalu memanggilnya dengan embel-embel “Mbak”.  Saya selalu senang cara Mb Lyta membuat ending. Seperti Flash Fiction yang ‘harus’ memberi kejutan pada endingnya, begitu juga dalam novel ini. Ah, monggo bacalah sendiri dan kalian akan menikmati manisnya cerita kopi ini.
 

Kalau dirating, saya kasi 4 bintang untuk The Coffee Memory. Sebab bintang satunya ketinggalan di setting tempat. Kenapa penulis memilih mengambil Batam bukan yang lain. Walau Batam berjamur coffee shop tapi di manakah ada kebun kopi? Ya, seperti pertanyaan saya awal paragraph tadi, di mana memangnya ada kebun kopi di Batam ini? 

Seandainya Katju Manis megambil kota Lampung atau Aceh atau di manapun ada kebun kopi sebagai lokasi berdirinya, saya pasti tak ragu memberi 5 bintang. Hanya saja, pengakuan penulis yang katanya hanya butuh 1,5 bulan untuk menyelesaikan naskah ini dan itu sungguh tak sempat jika harus riset daerah lain selain Batam, maka sayapun mafhum.

Sebab, walau hingga detik ini saya belum pernah nemu kebun kopi di Batam, si penulis yang domisili Tanjung Pinang mengaku, pada suatu ketika sepulang kondangan, ia mencium aroma sangat menyengat dari sebuah rumah, dan ternyata, di dapur rumah tersebut, sedang mengepul asap dari kuali yang sedang menggongseng biji-biji kopi. Mungkin, itu biji-biji kopi impor. Entahlah. Yang jelas, novel ini recommended banget buat para coffee lovers yang juga mencintai karya romance nggak picisan.
 

The Coffee Memory, sukses membuat saya terperosok pada sebuah kenang. Tentang seseorang seperti Barry, yang selalu memanggil saya dengan “Mbak.” Selalu begitu. Dan belum berubah. Very nice novel. Like it, lah.

Salam dari tukang review yang sesuka-sukanya ngereview, maafkan ada salah-salah kata.
Mari lanjutkan mengopi pagi,


Ttd, calon novelis (moga-moga) best seller
 

Dwi AR ^_^

 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

BAW; Tempat Niat Diikat Kuat-Kuat

Pada bilangan usia yang tak lagi muda, saya masuk dalam sebuah komunitas/grup/kelompok/organisasi menulis secara all out (beuh bahasanya, all out, Cyn!). Dulu jaman kuliah, beberapa kali pernah mendaftar dalam sebuah forum penulisan bergengsi, tapi hanya sebatas aply saja. Kesibukan (nah, belum-belum sudah sok sibuk) dan jarak untuk berkumpul dengan forum itu adalah kambing hitamnya. Padahal sejatinya adalah niat. Bukannya kalau niat pasti ada saja jalannya?

Bagi saya yang lembek motivasi diri, niat ini kadang-kadang harus dipaksa. Bila perlu diikat, kuat-kuat, hingga saya tak punya -sekedar- kelebat pikiran untuk melakukan tindakan percobaan melarikan diri. Dan, di grup menulis yang saya tercebur di dalamnya sekarang inilah, hal itu terjadi!

BAW; Tempat Tertambatnya Niat

 
Pada grup BAWlah saya menyerahkan diri untuk diikat niatnya kuat-kuat. Hanya bermodal kenal dengan sang Ibu Kepala; Leyla Imtichanah pasca FF saya masuk nominasi sebuah audisi yang diselenggarakan olehnya, saya nekat berkumpul dengan para pendahulu yang karyanya sudah bejibun.

Memasuki BAW pada awalnya nyaris seperti orang tersesat. Di antara banyak thread entah yang serius belajar atau yang OOT dan sahut menyahut komen yang meramaikannya, saya hanya diam tak tahu harus berbuat apa. Rasa-rasanya, walau sudah kulonuwun dan menyapa 'hai', saya ini tetap macam anak hilang yang masuk ke rumah orang. Semua sibuk. Beberapa hanya mengarahkan pada papan petunjuk. Senin ke arah Cathar, selasa ke jalan Sharing, rabu ke simpang blogging, kamis ke lorong Promo, jumat ke gang review, dan sabtu ke lapak Bussines. Selebihnya, suka-suka kau mau main ke mana. Begitu katanya.

Ok saya coba. Namun, belum sempurna proses adaptasi, saya kembali dibikin keki. Sebuah peraturan horor; member yang tak aktif tanpa ampun akan  diremove. Aturan ini dalam otak saya terekam sebagai ‘ancaman’. Ancaman yang menurut saya lebay ini sungguh lebih mengerikan dari darurat virus kaki gajah. Maka, sempurnalah saya sebagai member baru yang merasa terasing dan terancam, dan sekarang ditambah predikat; alay (tentu saja saya alay, buktinya member lain menganggap proses “R” itu biasa saja. Tidak gelisah seperti saya). Niat belajar menulis saya benar-benar diuji di sini. Akankah menyerah atau bersetia?

Momentum

 
Pada akhirnya memang harus kembali pada niat. Bagaimanalah cita-cita saya akan tergapai jika gampang frustasi. Justru kelebay-an grup BAW ini otomatis meremind niat saya kenapa masuk grup ini. Belajar menulis. Itu saja. Selebihnya cuma pemanis. Peraturan horor itu cuma pemanis untuk membuat grup berjalan efektif efisien. Ukhuwah member lain yang sulit ditembus pun cuma pemanis yang memperkaya suasana. 


Jadi, kalau saya fokus saja pada niat, selain akan mencapai goal impian, juga akan otomatis tertular manis. *mulai narsis
Dan Allah berkenan me'manis'kan saya. Lewat proyek kumcer BAW, cerpen saya mendapat apresiasi dari para senior. Maka, itu adalah momentum ketika si anak hilang ini merasa mulai masuk ke rumah sebenarnya. Mulai berani menyapa dan senang disapa. Nggak jarang ikut-ikutan OOT.
 

Kesan 'terancam' pada awal kehadiran mulai berganti. Mulai betah. Apa adanya. Santai. Dan asyikya, grup menulis ini nggak tutup mata sama situasi kondisi yang sedang terjadi. Yang paling mengesankan adalah saat mengikuti lelang untuk rakyat Palestina. Mantengin barang yang ditaksir, mau fast grab duit cekak. Jadi tunggu detik-detik akhir saja biar jadi pemenang. Eh ndilalah, waktu penutupan lelang malah kalah sama si sinyal lemot. Itu bener-bener bikin jantungan.

Grupnya Para Jawara

Tidaklah berlebihan jika saya katakan bahwa BAW adalah grupnya para juara. Mulai dari lomba novel di banyak penerbit bergengsi seperti Bentang, Qanita, Indiva. Lomba resensi, lomba cerpen, dan yang lagi ngetren sekarang ini adalah lomba blog.
 

Walau tidak ada klasifikasi khusus, tetapi secara garis besar bisa dipetakan bahwa BAWers sebagiannya adalah penulis fiksi yang selalu menang di lomba cerpen dan novel, dan sebagiannya adalah penulis non fiksi yang selalu juara pada tiap kompetisi blog dan writting kompeticion lainnya. Setiap harinya, selalu ada saja kabar gembira dari BAWers yang menang ini dan itu.
 

Mula-mula, kabar gembira ini melecut semangat saya. Namun kelamaan, harus saya akui mulai tidak tulus dengan keberhasilan teman yang dihadiahkan banyak ucapan. Dan parahnya, ucapan selamat saya (kadang-kadang) cenderung lip services belaka. Tersiksa sekali batin saya. Sisi hati yang bersih selalu berhasil ditelikung perasaan iri.
 

Beruntung, dalam kondisi seperti ini, seorang mentor, penulis kawakan Afifah Afra memberi nasihat kepada kami semua. Terkhusus saya yang alay dalam merasakan sakit sebab hal ini, nasehat beliau sangat mujarab. Berikut cuplikannya;
“Menyampaikan kabar gembira, adalah bagian dari keindahan Islam. Kita juga tak perlu takut untuk mengabarkan, dengan alasan jadi tak ikhlas. Jadi, tak ada masalah ketika kita meng-upload peristiwa baik yang kita alami. Apalagi, jika peristiwa itu adalah sebuah kemenangan yang kita peroleh dengan penuh perjuangan. Apakah itu riya'? Saya kira bukan. Riya' dan memberi kabar baik itu perkara yang berbeda. Tapi, bedanya memang tipis.

Percayalah, bahwa memendam kabar baik terkadang juga bisa menimbulkan penyakit hati pula. Misal, penyakit prasangka buruk bahwa saudara kita telah berbuat riya', lalu kita bergumam-gumam dalam hati, "Gitu aja dipamerin, nih, prestasiku sudah berjibun, aku diam saja."

Saya teringat nasihat Akhuna Salim A. Fillah, "Saat engkau merasa bicaramu itu penyakit, maka diamlah. Saat engkau merasa diammu adalah penyakit, maka bicaralah."

 

Membacanya sungguh membuat hati teduh, bukan?
 

Dan berangkat dari sini, saya berharap ke depan bisa terus menjaga kebersihan hati untuk tidak saling iri terhadap sesama penulis. Dan semoga, BAW tetap eksis, seeksis karir saya sebagai novelis (mudah-mudahan) best seller di tahun-tahun mendatang. *asli ngimpi. Tapi, baiknya kita amin saja, ya…:D 



BC, 20 April '13

TTD, Calon Novelis (Moga-Moga) Best Seller

Dwi AR ^_^

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Hallo, Salam Kenal dari Calon Novelis (moga-moga) Best Seller ^_^

Alhamdulillah, setelah rumah maya di adearin.multiply.com luluh lantak dibuldozer si pemegang hak milik, sekarang baru punya lapak lagi. Sensasi punya rumah maya yang dulu sama yang sekarang beda banget. Dulu awal-awal punya akun Multiply (dibuatin sama sodara karena doi stress tiap hari diributin mulu), rasanya seneeeng banget. Tiap menit ditengokin, bentar-bentar ganti template karena ngrasa selalu ga sesuai ama kepribadian (ribet bener), trus sibuk ngeadd temen.

Dulu tahun pertama ngeMPi, kerjaan kalau nggak bikin ribut ya narsis. Ketemu banyak sodara dan akrab setahunan itu. Tahun keduanya, mulai ikut audisi nulis n seneng ngeramein hajatan nulis sesame MPers. Hasilnya lumayanlah. Lantas tahun ketiga, karena pengennya uda mulai garap naskah buku solo, jadi sok-sok’anlah saya hibernasi dari keramaian MP. Pinginnya, tahun keempat sudah terbit buku solo.

Dan sekarang sudah di bilangan tahun keempat. Hasilnya? Boro-boro buku solo. Satu naskahpun belum ada yang rampung. Dan dahsyatnya, MP keburu tutup! Gagal total niat narsisin buku solo di jagad MP :D

Sebab-sebab itu, saya nothing to loose kehilangan lapak di MP. Greget ngeblog juga merosot tajam. Focus garap novel juga nggak stabil. Kayaknya, saya ini orang linglung yang tersesat n tak tahu arah jalan pulang *jangan diterusin. Mau lurus ke naskah novel atau buka cabang ngeblog lagi? Bingung sendiri. Maklumlah, saya ini kan cuma an ordinary house wife saja. Harus ada prioritas biar anak n bapaknya anak ga ngerasa dicuekin.

Tapi karena tiba-tiba ada tawaran dari teman super baik yang mau bikinin blog (oiya, sy ini gapteknya minta ampun), jadi saya terimalah dengan hati lapang. Postingan perdana ini khususon buat Mbak Anik Nuraeni yang udah bikini blog ini. Blog bernuansa coklat yang mengesankan saya ini seorang sangat hangat. Duh, semoga di kehidupan nyata sy bisa sehangat ini. Dan semoga semangat menulis sy  bisa mengembang laksana kerupuk yang tercelup minyak panas.  Dan lagi, semoga ini awal yang baik dari cita-cita seorang yang nggak tahu malu dan sering saya gaungkan; jadi novelis (moga-moga) best seller.  Amin.

Dan karena ini postingan perdana, let me introduce my self ya. Kalau akun FB sy sah dengan nama ‘Dwi Rahmawati’. Kalau nama pemberian ibu bapak (sebenernya pemberian kakek) ada tambahan ‘ASIH’ di tengahnya. Kalau temen-temen grup Be A Writter biasa panggil ‘Dwi’. Kalau temen-temen kecil panggil ‘Wiwik’, kalau suami panggil ‘Dek’, nah kalau para mantan biasa panggil ‘Mbak’. Maksudnya mantan bapak kos, mantan dosen, mantan tukang sol sepatu keliling. Pikiran ga boleh aneh-aneh, ya?! :D

Seorang novelis romance berbakat ‘Riawani Elyta’ pernah membaca kepribadian saya melalui tanda tangan. Katanya begini; “Dwi ini cukup ceria, menyenangkan, ckp humoris, sederhana, njalani yg udah pasti2 aja, rd mirip karakterku sptnya, karakter pertengahan, gak trll mudah tp jg gak sulit, utk nulis, bs nyoba di genre apa aja tp hslnya mungkin gak terlalu heboh, rd tertutup, mdh berdaptasi.
 
Well, itu sedikit tentang saya n setelah saya pikir-pikir nggak penting banget ya perkenalan saya ini. Tapi karena sayang kalau diedit n delete, yawes gapapalah ya. :D

Ok, teman-teman. Semoga rumah maya ini benar-benar bisa mengiringi langkah saya menuju pintu gerbang impian.

Salam kenal dan kasih hangat dari saya,
Dwi AR

~mwaah~ *icon cipok

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Welcome


Hai, welcome to my blog. This my souly notes blog. Every alphabetical that I curve in here is souly. You can call it as a souly spell.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS