Review Novel Always Be in Your Heart
Penulis :Shabrina WS
Penerbit :Qanita
Tebal :236 hal
Novel karya Shabrina WS yang menjadi pemenang ketiga lomba novel romance Qanita ini bener-bener PADAT, LUGAS, BERNILAI, MANIS, hmmm, indaaah sekali.
Bintang empat setengah lebih buat novel yang bercerita tentang dua sahabat sekaligus tetangga (Marsela dan Juanito) yang hidup di perkebunan kopi Ermera, sebuah desa di Timor Timur. Juanito yang selalu menjaga Marsela. Hingga ia kuliah di Dilli, dan mengajak serta Marsela kuliah di sana seusai gadis itu tamat SMA. Juan melamar Sela agar mereka bisa hidup bersama di Dilli. Tetapi referendum meluluhlantakkan mimpi mereka.
Keluarga Juan memilih tinggal sedangkan Marsela memutuskan pergi mengungsi. Juan berjanji jika situasi kondusif, ia pasti akan menyusul Sela. Tapi sepuluh tahun di pengungsian sampai ayah Sela meninggal, Juan tak kunjung datang. Hidup Sela justru banyak dibantu Randu (pemilik toko bangunan) yang sering menyetir sendiri truknya jika mengangkut kerikil dari sungai di desa pengungsian Sela. Randu yang akrab dengan ayah Sela sebelum kematiannya, berusaha melindungi Sela sebisa yang ia lakukan. Itu karena amanat ayah Sela. Dan tentu saja membuat Sela bingung mengenali perasaannya. Adakah masih tertinggal di Ermera pada Juan, ataukah bisa menerima sepotong hati baru milik Randu?
Eits…baca sendiri lanjutannya ^_^
Oke, kenapa di atas saya tulis novel ini PADAT? Jelas saja, penampakan novel ini imut sekali persis penulisnya. Tapi, perawakan imut inilah yang justru bikin saya terkagum-kagum. Tanpa kesan tergesa-gesa, penulis mampu memampatkan cerita masa kecil tokoh-tokohnya pada dua bab pertama. Meremaja pada bab selanjutnya, dan bertumbuh dewasa pada bab berikutnya. Dan sungguh, tehnik penceritaan yang apik tak sedikitpun membuat saya merasa, 'lo, kenapa tiba-tiba sampai di sini.'
Mb Shabrina membuatnya terasa alami. Dan saya merasa harus belajar dari novel ini, bagaimana menyajikan cerita yang utuh walau banyak sekali mengalami lompatan waktu.
LUGAS. Nah ini, hawa lugas ini sangat saya rasakan ketika membaca dialog tokoh-tokohnya. Sama sekali tak ada kesan bertele-telenya. Apa yang harus dikatakan ya dikatakan. Tidak ya tidak. Sampai-sampai, saya gemas saking lugasnya sikap Marsela pada Juanito ketika Marsela mengatakan bahwa mereka bukan lagi anak-anak dan karenanya tak boleh bersentuhan. Dan juga, saya kagum pada kelugasan Marsela pada Randu jika pria itu mengunjunginya. Bahkan, walau harus mengantar nasi lalu pulang, walau sekedar menjemput/mengantar Marsela lalu pulang. Dan betapa lugasnya, "Ya sudah, aku pulang." Kata Randu bikin geregetan :D
BERNILAI. Ini novel walau tak eksplisit menyebut agama tertentu, tapi pasti kita langsung tahu keyakinan yang dianut kebanyakan masyarakat di Timor Leste. Apalagi kehadiran Lon dan Royo (dua ekor anjing kado dari Juan untuk Sela), kita bisa tahu bahwa mereka bukan muslim. Tetapi sungguh, penulis tak kehilangan cara untuk menyelipkan nilai-nilai kebaikan universal. Dan menurut saya, wah, itu sungguh islami sekali.
Saya kutipkan perkataan ayah Sela pada Sela ketika anak gadisnya itu mulai mendapati menstruasi, "...Kamu boleh berteman dengan siapa saja, tapi kamu tak boleh membiarkan seorangpun menyentuhmu. Meski itu hanya tanganmu. Tidak juga Juanito! Dirimu adalah harta untukmu, maka harus kamu jaga baik-baik harta itu."
MANIS dan indah. Nah ini tentu dirasain sama siapapun yang sudah baca. Betapa setting Ermera, sebuah kampung berlanscap perkebunan kopi yang memesona, dan juga beberapa petikan puisi membuat novel imut ini terasa sangat manis dan indah. Walaupun Randu harus berhenti dari menjaga Marsela seperti yang diamanatkan Mario padanya. Sungguh kisah ini tetap indah.
Oh ya soal setting saya tambah sedikit. Buat saya penikmat novel, Always Be in Your Heart ini bener-bener punya setting yang menyatu dengan cerita. Walaupun tidak kental pada bab awalnya, tetapi secara keseluruhan well done. Kenapa novel ini harus bersetting daerah Timor Timur, ya, karena memang referendum itu kejadiannya di sana. Jadi pas. Nggak bisa ditukar ke tempat lain.
Dan hemat saya, setting yang nggak tempelan itu ya yang kayak gini. Yang padu dengan cerita. Sebab setting itu membentuk alur dan plot. Inilah dia. Settingnya Timor Timur (lampau), alurnya maju sampai referendum dan menjadi Timor Leste. Plotnya pas karena menceritakaan sepasang kekasih yang terpisah akibat referendum. Mungkin ada ribuan cerita sepasang kekasih yang terpisah di dunia ini. Tetapi sepasang kekasih (dan juga anjing) yang terpisah karena referendum di Timor Timur, ya si Marsela dan Juan ini. Nggak bisa mau diganti sepasang kisah kekasih terpisah karena referendum tapi settingnya Batam, atau Gunung Kidul. Nggak bisa. Kecuali pada minta merdeka ya xixixixi…
The last, kenapa novel ini nggak saya kasi bintang lima, ini gara-gara covernya yang menurut saya kurang nyambung. Seandainya gambar kembang mirip sakura (apa emang sakura, ya?) itu diganti sama sepohon kopi yang lagi berbunga, mungkin akan lebih klop dengan cerita. Trus sangkar burung n burungnya diganti sama Lon n Royo, atau juga mungkin ada aliran sungai, atau pegunungan atau ah...mulai nyolotin deh saya :D
Yang jelas, saya sukaaa banget novel ini.
Trimakasih sudah menuliskan kisah Marsela, Mba Shabrina. Bangga kepadamu.
Review Novel The Coffee Memory
Awal tahun 2006 ketika mengikut suami yang merantau demi sesuap nasi dan segram emas di Batam, saya surprise membaca kemasan sebuah bungkus kopi. “Kapal Tanker” itu mereknya. Kopi bubuk entah dari jenis apa dan rasanya yang entahlah karena saya tak pernah minum kopi. Yang spesial membikin surprise bukan dari jenis, kwalitas dan segala yang penggemar kopi bisa nilai. Spesialnya karena di kemasan Kapal Tanker ini jelas tertulis bahwa ini kopi diproduksi di Batam-Tanjung Pinang Kepulauan Riau.
Memangnya, di mana ada kebun kopi di Batam sini?
Pertanyaan itu menguap begitu saja. Sampai beberapa hari lalu, penulis romance panutan sekaligus darinya saya banyak belajar; Riawany Elita, mengirimkan novel terbarunya; “The Coffee Memory”. Sebuah novel yang settingnya pekat aroma kopi. Sebuah pasangan yang merintis coffee shop dan seluk beluk perihal jatuh bangunnya bisnis ini. Dan tentu saja karena ini novel romance, aroma romantis dari tokoh-tokohnya juga bisa dirasakan sangat kental walau tetap berasa ringan dan santun yang udah jadi brand imagenya Mb Lyta.
Dalam tiap pergantian bab saya seperti disuguhi kopi berganti-ganti jenis dan rasa. Hidung saya seperti benar-benar menghidu aroma kopi, tak sudah-sudah, tak habis-habis. Dalam tempo tutur yang mengalir sedang, saya lancar menyeruput cerita dengan alur maju. Hanya saja, karena saya bukan seorang kopi lovers, agak tersendat pada awal-awal babnya yang menceritakan pasangan Andro-Dania dalam perjuangannya berbisnis kafe yang diberi nama ‘Katju Manis’, hingga dalam sebuah kecelakaan sepulang dari kebun kopi, mobil mereka celaka dan menewaskan Andro.
Perjuangan Dania untuk meneruskan usaha warisan sang suami tersendat dengan hadirnya si Abang Ipar yang serakah juga mundurnya seorang barista terbaik yang ditarik kafe baru n notabene milik Pram; teman SMA yang begitu masih terngiang cinta lamanya hingga belum juga menikah. Inilah konflik utamanya. Selain konflik percintaan yang begitu dirasa berat bagi seorang widow yang di Negara kita, masih terus dilabel agak kurang baik hingga tokoh agama dirasa perlu terus membimbing mereka dalam jalan kebaikan…^_^
Well, bab separuh ke ending sangat lancar untuk saya tenggak. Tak lagi harus menyeruput. Hingga ending hadap-hadapan pilihan akankah Dania memilih Pram ataukah Barry, si barista baru yang skillnya menyamai Andro sang mantan suami dan selalu memanggilnya dengan embel-embel “Mbak”. Saya selalu senang cara Mb Lyta membuat ending. Seperti Flash Fiction yang ‘harus’ memberi kejutan pada endingnya, begitu juga dalam novel ini. Ah, monggo bacalah sendiri dan kalian akan menikmati manisnya cerita kopi ini.
Kalau dirating, saya kasi 4 bintang untuk The Coffee Memory. Sebab bintang satunya ketinggalan di setting tempat. Kenapa penulis memilih mengambil Batam bukan yang lain. Walau Batam berjamur coffee shop tapi di manakah ada kebun kopi? Ya, seperti pertanyaan saya awal paragraph tadi, di mana memangnya ada kebun kopi di Batam ini?
Seandainya Katju Manis megambil kota Lampung atau Aceh atau di manapun ada kebun kopi sebagai lokasi berdirinya, saya pasti tak ragu memberi 5 bintang. Hanya saja, pengakuan penulis yang katanya hanya butuh 1,5 bulan untuk menyelesaikan naskah ini dan itu sungguh tak sempat jika harus riset daerah lain selain Batam, maka sayapun mafhum.
Sebab, walau hingga detik ini saya belum pernah nemu kebun kopi di Batam, si penulis yang domisili Tanjung Pinang mengaku, pada suatu ketika sepulang kondangan, ia mencium aroma sangat menyengat dari sebuah rumah, dan ternyata, di dapur rumah tersebut, sedang mengepul asap dari kuali yang sedang menggongseng biji-biji kopi. Mungkin, itu biji-biji kopi impor. Entahlah. Yang jelas, novel ini recommended banget buat para coffee lovers yang juga mencintai karya romance nggak picisan.
The Coffee Memory, sukses membuat saya terperosok pada sebuah kenang. Tentang seseorang seperti Barry, yang selalu memanggil saya dengan “Mbak.” Selalu begitu. Dan belum berubah. Very nice novel. Like it, lah.
Salam dari tukang review yang sesuka-sukanya ngereview, maafkan ada salah-salah kata.
Mari lanjutkan mengopi pagi,
Ttd, calon novelis (moga-moga) best seller
Dwi AR ^_^
BAW; Tempat Niat Diikat Kuat-Kuat
Pada bilangan usia yang tak lagi muda, saya masuk dalam sebuah komunitas/grup/kelompok/organisasi menulis secara all out (beuh bahasanya, all out, Cyn!). Dulu jaman kuliah, beberapa kali pernah mendaftar dalam sebuah forum penulisan bergengsi, tapi hanya sebatas aply saja. Kesibukan (nah, belum-belum sudah sok sibuk) dan jarak untuk berkumpul dengan forum itu adalah kambing hitamnya. Padahal sejatinya adalah niat. Bukannya kalau niat pasti ada saja jalannya?
Bagi saya yang lembek motivasi diri, niat ini kadang-kadang harus dipaksa. Bila perlu diikat, kuat-kuat, hingga saya tak punya -sekedar- kelebat pikiran untuk melakukan tindakan percobaan melarikan diri. Dan, di grup menulis yang saya tercebur di dalamnya sekarang inilah, hal itu terjadi!
BAW; Tempat Tertambatnya Niat
Pada grup BAWlah saya menyerahkan diri untuk diikat niatnya kuat-kuat. Hanya bermodal kenal dengan sang Ibu Kepala; Leyla Imtichanah pasca FF saya masuk nominasi sebuah audisi yang diselenggarakan olehnya, saya nekat berkumpul dengan para pendahulu yang karyanya sudah bejibun.
Memasuki BAW pada awalnya nyaris seperti orang tersesat. Di antara banyak thread entah yang serius belajar atau yang OOT dan sahut menyahut komen yang meramaikannya, saya hanya diam tak tahu harus berbuat apa. Rasa-rasanya, walau sudah kulonuwun dan menyapa 'hai', saya ini tetap macam anak hilang yang masuk ke rumah orang. Semua sibuk. Beberapa hanya mengarahkan pada papan petunjuk. Senin ke arah Cathar, selasa ke jalan Sharing, rabu ke simpang blogging, kamis ke lorong Promo, jumat ke gang review, dan sabtu ke lapak Bussines. Selebihnya, suka-suka kau mau main ke mana. Begitu katanya.
Ok saya coba. Namun, belum sempurna proses adaptasi, saya kembali dibikin keki. Sebuah peraturan horor; member yang tak aktif tanpa ampun akan diremove. Aturan ini dalam otak saya terekam sebagai ‘ancaman’. Ancaman yang menurut saya lebay ini sungguh lebih mengerikan dari darurat virus kaki gajah. Maka, sempurnalah saya sebagai member baru yang merasa terasing dan terancam, dan sekarang ditambah predikat; alay (tentu saja saya alay, buktinya member lain menganggap proses “R” itu biasa saja. Tidak gelisah seperti saya). Niat belajar menulis saya benar-benar diuji di sini. Akankah menyerah atau bersetia?
Momentum
Pada akhirnya memang harus kembali pada niat. Bagaimanalah cita-cita saya akan tergapai jika gampang frustasi. Justru kelebay-an grup BAW ini otomatis meremind niat saya kenapa masuk grup ini. Belajar menulis. Itu saja. Selebihnya cuma pemanis. Peraturan horor itu cuma pemanis untuk membuat grup berjalan efektif efisien. Ukhuwah member lain yang sulit ditembus pun cuma pemanis yang memperkaya suasana.
Jadi, kalau saya fokus saja pada niat, selain akan mencapai goal impian, juga akan otomatis tertular manis. *mulai narsis
Dan Allah berkenan me'manis'kan saya. Lewat proyek kumcer BAW, cerpen saya mendapat apresiasi dari para senior. Maka, itu adalah momentum ketika si anak hilang ini merasa mulai masuk ke rumah sebenarnya. Mulai berani menyapa dan senang disapa. Nggak jarang ikut-ikutan OOT.
Kesan 'terancam' pada awal kehadiran mulai berganti. Mulai betah. Apa adanya. Santai. Dan asyikya, grup menulis ini nggak tutup mata sama situasi kondisi yang sedang terjadi. Yang paling mengesankan adalah saat mengikuti lelang untuk rakyat Palestina. Mantengin barang yang ditaksir, mau fast grab duit cekak. Jadi tunggu detik-detik akhir saja biar jadi pemenang. Eh ndilalah, waktu penutupan lelang malah kalah sama si sinyal lemot. Itu bener-bener bikin jantungan.
Grupnya Para Jawara
Tidaklah berlebihan jika saya katakan bahwa BAW adalah grupnya para juara. Mulai dari lomba novel di banyak penerbit bergengsi seperti Bentang, Qanita, Indiva. Lomba resensi, lomba cerpen, dan yang lagi ngetren sekarang ini adalah lomba blog.
Walau tidak ada klasifikasi khusus, tetapi secara garis besar bisa dipetakan bahwa BAWers sebagiannya adalah penulis fiksi yang selalu menang di lomba cerpen dan novel, dan sebagiannya adalah penulis non fiksi yang selalu juara pada tiap kompetisi blog dan writting kompeticion lainnya. Setiap harinya, selalu ada saja kabar gembira dari BAWers yang menang ini dan itu.
Mula-mula, kabar gembira ini melecut semangat saya. Namun kelamaan, harus saya akui mulai tidak tulus dengan keberhasilan teman yang dihadiahkan banyak ucapan. Dan parahnya, ucapan selamat saya (kadang-kadang) cenderung lip services belaka. Tersiksa sekali batin saya. Sisi hati yang bersih selalu berhasil ditelikung perasaan iri.
Beruntung, dalam kondisi seperti ini, seorang mentor, penulis kawakan Afifah Afra memberi nasihat kepada kami semua. Terkhusus saya yang alay dalam merasakan sakit sebab hal ini, nasehat beliau sangat mujarab. Berikut cuplikannya;
“Menyampaikan kabar gembira, adalah bagian dari keindahan Islam. Kita juga tak perlu takut untuk mengabarkan, dengan alasan jadi tak ikhlas. Jadi, tak ada masalah ketika kita meng-upload peristiwa baik yang kita alami. Apalagi, jika peristiwa itu adalah sebuah kemenangan yang kita peroleh dengan penuh perjuangan. Apakah itu riya'? Saya kira bukan. Riya' dan memberi kabar baik itu perkara yang berbeda. Tapi, bedanya memang tipis.
Percayalah, bahwa memendam kabar baik terkadang juga bisa menimbulkan penyakit hati pula. Misal, penyakit prasangka buruk bahwa saudara kita telah berbuat riya', lalu kita bergumam-gumam dalam hati, "Gitu aja dipamerin, nih, prestasiku sudah berjibun, aku diam saja."
Saya teringat nasihat Akhuna Salim A. Fillah, "Saat engkau merasa bicaramu itu penyakit, maka diamlah. Saat engkau merasa diammu adalah penyakit, maka bicaralah."
Membacanya sungguh membuat hati teduh, bukan?
Dan berangkat dari sini, saya berharap ke depan bisa terus menjaga kebersihan hati untuk tidak saling iri terhadap sesama penulis. Dan semoga, BAW tetap eksis, seeksis karir saya sebagai novelis (mudah-mudahan) best seller di tahun-tahun mendatang. *asli ngimpi. Tapi, baiknya kita amin saja, ya…:D
BC, 20 April '13
TTD, Calon Novelis (Moga-Moga) Best Seller
Dwi AR ^_^
Hallo, Salam Kenal dari Calon Novelis (moga-moga) Best Seller ^_^
Alhamdulillah, setelah rumah maya di adearin.multiply.com luluh lantak dibuldozer si pemegang hak milik, sekarang baru punya lapak lagi. Sensasi punya rumah maya yang dulu sama yang sekarang beda banget. Dulu awal-awal punya akun Multiply (dibuatin sama sodara karena doi stress tiap hari diributin mulu), rasanya seneeeng banget. Tiap menit ditengokin, bentar-bentar ganti template karena ngrasa selalu ga sesuai ama kepribadian (ribet bener), trus sibuk ngeadd temen.
Dulu tahun pertama ngeMPi, kerjaan kalau nggak bikin ribut ya narsis. Ketemu banyak sodara dan akrab setahunan itu. Tahun keduanya, mulai ikut audisi nulis n seneng ngeramein hajatan nulis sesame MPers. Hasilnya lumayanlah. Lantas tahun ketiga, karena pengennya uda mulai garap naskah buku solo, jadi sok-sok’anlah saya hibernasi dari keramaian MP. Pinginnya, tahun keempat sudah terbit buku solo.
Dan sekarang sudah di bilangan tahun keempat. Hasilnya? Boro-boro buku solo. Satu naskahpun belum ada yang rampung. Dan dahsyatnya, MP keburu tutup! Gagal total niat narsisin buku solo di jagad MP :D
Sebab-sebab itu, saya nothing to loose kehilangan lapak di MP. Greget ngeblog juga merosot tajam. Focus garap novel juga nggak stabil. Kayaknya, saya ini orang linglung yang tersesat n tak tahu arah jalan pulang *jangan diterusin. Mau lurus ke naskah novel atau buka cabang ngeblog lagi? Bingung sendiri. Maklumlah, saya ini kan cuma an ordinary house wife saja. Harus ada prioritas biar anak n bapaknya anak ga ngerasa dicuekin.
Tapi karena tiba-tiba ada tawaran dari teman super baik yang mau bikinin blog (oiya, sy ini gapteknya minta ampun), jadi saya terimalah dengan hati lapang. Postingan perdana ini khususon buat Mbak Anik Nuraeni yang udah bikini blog ini. Blog bernuansa coklat yang mengesankan saya ini seorang sangat hangat. Duh, semoga di kehidupan nyata sy bisa sehangat ini. Dan semoga semangat menulis sy bisa mengembang laksana kerupuk yang tercelup minyak panas. Dan lagi, semoga ini awal yang baik dari cita-cita seorang yang nggak tahu malu dan sering saya gaungkan; jadi novelis (moga-moga) best seller. Amin.
Dan karena ini postingan perdana, let me introduce my self ya. Kalau akun FB sy sah dengan nama ‘Dwi Rahmawati’. Kalau nama pemberian ibu bapak (sebenernya pemberian kakek) ada tambahan ‘ASIH’ di tengahnya. Kalau temen-temen grup Be A Writter biasa panggil ‘Dwi’. Kalau temen-temen kecil panggil ‘Wiwik’, kalau suami panggil ‘Dek’, nah kalau para mantan biasa panggil ‘Mbak’. Maksudnya mantan bapak kos, mantan dosen, mantan tukang sol sepatu keliling. Pikiran ga boleh aneh-aneh, ya?! :D
Seorang novelis romance berbakat ‘Riawani Elyta’ pernah membaca kepribadian saya melalui tanda tangan. Katanya begini; “Dwi ini cukup ceria, menyenangkan, ckp humoris, sederhana, njalani yg udah pasti2 aja, rd mirip karakterku sptnya, karakter pertengahan, gak trll mudah tp jg gak sulit, utk nulis, bs nyoba di genre apa aja tp hslnya mungkin gak terlalu heboh, rd tertutup, mdh berdaptasi.”
Well, itu sedikit tentang saya n setelah saya pikir-pikir nggak penting banget ya perkenalan saya ini. Tapi karena sayang kalau diedit n delete, yawes gapapalah ya. :D
Ok, teman-teman. Semoga rumah maya ini benar-benar bisa mengiringi langkah saya menuju pintu gerbang impian.
Salam kenal dan kasih hangat dari saya,
Dwi AR
~mwaah~ *icon cipok
Welcome










